Selasa, 12 April 2011

Pengunaan Poster dalam Layanan Bimbingan

Salah satu contoh poster yang dapat digunakan dalam layanan BK pada anak kelas SD 
»»  Baca Selengkapnya...

Salah Satu Contoh Media BK yang ada di SMA BOPKRI I Yogyakarta

video
»»  Baca Selengkapnya...

JIKA BUMI BISA BICARA - KATON

video

Renungkanlah lagu ini . . . . .


»»  Baca Selengkapnya...

FRIENDSHIP - LOVE

video

ngambil dari youtube gan . . . . .

»»  Baca Selengkapnya...

KEGUNAAN FACEBOOK, TWITER, DAN BLOGER DALAM BK

A.    Peran media
Media berasal dari bahasa latin yaitu, medium artinya perantara. Pelling (2002) menyatakan data yang diperoleh melalui internet dapat dipertanggung jawabkan dan masuk akal. Data atau informasi yang diperoleh lewat internet sudah memiliki validitas yang tinggi karena dapat dibaca oleh semua orang. Contohnya display perguruan tinggi yang dipasang di internet tidak mungkin data yang ditampilkan berupa data palsu. Media dalam BK terus berkembang sesuai dengan perkembangan zaman. Teknologi informasi adalah seperangkat alat yang membantu sesorang bekerja dengan informasi dan melakukan tugas-tugas yang berhubungan pemrosesan tertentu (Haag dan Keen, 1996). Kecanggihan teknologi informasi memungkinkan terjadinya pertukaraan informasi yang cepat tanpa terbatas oleh ruang dan waktu (Dryden & Voss, 1999).
Media dalam BK memiliki peran penting dalam pemberian bimbingan yang dilakukan oleh guru BK. Adanya media mempermudah guru pembimbing untuk menyampaikan materi-materi bimbingan dengan bentuk yang manarik dan dan berfasiasi. Bentuk media dapat berupa papan bimbingan, folder, poster, majalah sekolah, display perguruan tinggi, biblioterapi dan permainan (puzel, kartu). Media dalam BK membantu memberikan informasi-informasi yang sangat berguna bagi siswa dan bertujuan meningkatkan minat siswa terhadap BK.
Maka perlu adanya bentuk media lain selain papan bimbingan, folder, poster, majalah sekolah, display pergurua tinggi, biblioterapi, dan permainan. Media dalam bentuk papan bimbingan, folder, poster, majalah sekolah, display perguruan tinggi, biblioterapi dan permainan membutuhkan waktu lama untuk membuatnya dan membutuhkan ide kreatif yang fress. Maka perlu adanya media yang lebih praktis namun dapat dilihat dan diakses oleh semua murid tanpa mengurangi isi dari materi bimbingan. Selain itu pesan bimbingan yang disampaikan dapat mudah dipahami oleh sisiwa. Maka dengan demikian perlu adanya media yang digemari oleh siswa dan mudah diakses oleh siswa, seperti bloger, facebook, dan twiter. Media ini hampir dimiliki oleh semua siswa dan sedang sangat digemari oleh siswa sehingga banyak siswa yang memilikinya dan dapat dengan mudah dibaca oleh siswa.
B.    Tujuan
1.    Untuk melihat sejauh mana akun pribadi seperti facebook, twiter, dan bloger membantu meningkatkan ketertarikan siswa pada layanan BK.
2.    Untuk mengembangkan media yang lebih luas dari media yang ada selama ini.
3.    Untuk melihat ketertarikan siswa pada adanya media internet sebagai sarana bimbingan dan konseling.

C.    Manfaat
1.    Membantu konselor sekolah dalam memberikan layanan bimbingan kepada siswa.
2.    Membantu melihat perkembangan siswa melalui akun yang dimiliki oleh siswa.
3.    Membantu dalam melaksanakan konseling pada siswa yang malu menemui konselor secara langsung.

D.    Masalah yang Terjadi
Berkembangnya pengetahuan dan teknologi menuntut seorang konselor untuk mengikuti pola perubahan zaman maka konselor dituntut untuk bisa mengembangkan media-media yang ada dalam Bimbingan dan konseling media haruslah dapat digunakan sebagai alat bimbingan yang dapat dengan mudah dipahami dan diakses oleh siswa. Melihat perkembangan terus berlangsung maka dapat dilihat media yang sedang digemari oleh siswa yaitu media internet terutama berupa akun-akun pribadi seperti facebook, twiter, dan bloger. Melihat media yang sedang digemari oleh anak-anak SMP dan SMA adalah facebook,twiter, dan bloger. Maka media yang perlu dipelajari oleg guru pembimbing berupa facebook, twiter, dan blog. media ini merupakan sarana yang mudah diakses oleh siswa dalam hal ini siswa SMP dan SMA karena, facebook, twiter, dan blog hampir dimiliki oleh semua siswa. Selain sedang popular dan mudah diakses adanya akun berupa facebook, twiter, dan blog membantu peran konselor dalam memberikan bimbingan. Bimbingan tidak semua dilakukan dalam kelas atau bimbingan klasikal namun juga bisa lewat media facebook, twiter, dan bloger. Topic-topik bimbingan dapat di berikan lewat akun tersebut.
Tuntutan-tuntutan yang ada membuat konselor harus kreatif dalam membuat bimbingan yang dapat menarik siswa. Bimbingan yang diberikan melalui papan bimbingan maupun folder cukup banyak menyita waktu konselor dan bentuknya juga harus kreatif sedangkan waktu yang dimiliki konselor terbatas, melihat keterbatasan tersebut maka harus ada resulusi baru yang dapat menarik minat siswa tanpa harus menyita banyak waktu untuk membuatnya.
 Akun seperti facebook, twiter, dan bloger bisa membantu konselor untuk melihat perkembangan tiap siswanya. Setiap siswa rata-rata memiliki akun ini dan akun ini di gunakan sebagai tempat untuk mencurahkan isi hati atau ungkapan permasalahan yang sedang di alami. Maka dengan adanya akun ini guru pembimbing dimudahkan untuk mengetahui keadaan tiap siswanya. Apabila ada siswa yang memiliki indikasi untuk melakukan hal yang membahayakan dirinya akan mudah untuk ditangani. Dengan adanya media ini maka guru pembimbing akan mudah melihat kebutuhan-kebutuhan siswa melaui status-status yang dibuat oleh siswanya sendiri. Selain sebagai media informasi bagi siswa juga menjadi media informasi bagi guru pembimbing. Manfaat lain yang muncul adalah dapat diakses di mana saja dan kapan saja oleh siswa sedangkan bimbingan klasikal harus pada jam tertentu dan terbatas oleh waktu yang ditetapkan oleh sekolah. Menjangkau siswa lebih luas lagi, bila di kelas guru pembimbing tidak bisa untuk menjangkau seluruh siswanya namun pada akun-akun ini guru dapat memberikan layanan lebih luas.
Kegunaan facebook, twiter, dan bloger selain menjadi media informasi bisa juga digunakan untuk media konseling dalam hal ini anak yang belum berani bertemu langsung dengan konselor dapat menghubungi konselor melalui akun ini. Ada berbagai macam siswa ada siswa yang senang mengunjugi guru pembimbing untuk melakukan konseling ada pula siswa yang tidak pernah mau untuk melakukan konseling apa bila tidak dipanggil untuk konseling. Maka media ini sangat membantu siswa yang tidak pernah mengunjungi guru pembimbing. Maka perlu adanya akun tersendiri bagi sekolah yang dikelola oleh guru Bimbingan dan Konseling sebagai media dalam Bimbingan dan Konseling.
Selain adanya keunggulan menggunakan akun pribadi seperti facebook, twiter, dan bloger ditemukan pula kelemahan pada penggunaan akun-akun tersebut. Kelemahan yang muncul adalah guru pembimbing tidak dapat bertemu secara langsung dengan binimbing. Terkadang status-status yang dibuat oleh siswa belum tentu mewakili perasan siswa yang sesungguhnya. Guru pembimbing juga tidak dapat melihat non-verbal binimbing sehingga guru pembimbing harus betul-betul memahami isi kata-kata binimbing. Hal lain yang terkadang juga sangat fatal adalah sasaran bimbingan disamakan. Sedangkan setiap kelas mungkin memiliki kebutuhan khusus sendiri-sendiri. Meski bentuk yang disajikan bermacam-macam dan menarik terkadang kurang bisa menyentuh sisi perasaan atau afeksi bibimbing. Selain itu juga dapat menghilangkan unsure penting yaitu empati karena memang guru pembimbing tidak bertemu langsung dengan binimbing sehingga guru pembimbing tidak dapat mendengar nada suara, mimic muka maupun gesture binimbing.
E.    Kesimpulan
Ilmu pengetahun dan teknologi memang berkembang dengan pesat seiring berkembangnya zaman dan kebutuhan-kebutuhan manusia. Maka untuk tetap survive seseorang dituntut untuk bisa menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman ini. Maka perkembangan teknologi dalam Bimbingan dan Konseling juga harus berkembang sesuai dengan perubahan yang ada. Guru pembimbing harus lebih kreatif dalam memberikan layanan kepada setiap siswa yang dibimbing. Guru pembimbing semakin dituntut untuk berfikir cepat dan tepat dalam membuat perubahan-perubahan yang dapat mengembangkan sitiap siswanya, sehingga semakin tertarik dengan program dan isi layanan Bimbingan dan Konseling. Adanya media internet membantu guru pembimbing untuk lebih mengembangkan kreatifitasnya dalam memberikan layanan. Bentuk media yang ada sebelumnya berupa papan bimbingan, poster, folder, display perguruan tinggi, majalah selokah, dan permainan memang masih sangat bermanfaat. Namun memiliki keterbatasan waktu dalam membuatnya dan  harus ad ide kreatif dan fress dengan bentuk yang semakin menarik. Sedangkan media berupa internet sepetrti akun-akun pribadi lebih mudah dibuat dan bisa dilakukan dimanapun, selain itu adanya program-program computer seperti power point, coral draw, adan photo shop lebih membantu guru pembimbing dalam mendesign.

F.    Saran atau Rekomendasi
Maka seiring dengan pekembangan zaman guru pembimbing juga harus menciptakan inovasi-inovasi baru dalam memberikan layanan. Selain itu guru pembimbing juga harus mencoba hal lain dalam memberikan layanan seperti menggunakan media internet berupa akun-akun yang mudah diakses dan kemungkinan dimiliki oleh semua siswa. Selain itu perlunya pembelajaran bagi guru pembimbing mengenai teknologi informasi. Masih banyaknya guru pembimbing yang buta akan tecnologi computer membuat pentingnya adannya pembeelajaran teknik informasi bagi para guru pembimbig.


G.    Daftar Pustaka

1.    Drizcade. 2010. Layanan Bimbingan dan Konseling Berbasis Teknologi Informasi. Dalam  http://www.vilila.com (Diunduh tanggal 21 Desember 2010)
2.    Nn. 2010. Makalah System TI dalam BK. Dalam http://arihdyacaesar.wordpress.com (Diunduh tanggal 21 Desember 2010)

3.    Soedarmadji, Boy. 2007. Media Bimbingan dan Konseling. Dalam  http://karyaboy.blogspot.com (Diunduh tanggal 21 Desember 2010)

»»  Baca Selengkapnya...

FILM PENDEK SEBAGAI SARANA EFEKTIF PENYAMPAIAN MATERI BIMBINGAN

A.    PENDAHULUAN

Dalam menyampaikan suatu topik bimbingan, seorang guru BK memerlukan kreativitas agar topik bimbingan yang disampaikan dapat diterima dengan baik oleh peserta didik. Karena itu, penggunaan media akan sangat membantu pembimbing dalam memperkuat isi topik bimbingan yang hendak disampaikan. Salah satu bentuk media yang dapat disampaikan kepada peserta didik adalah melalui pemutaran film pendek. Film pendek yang disajikan kepada peserta didik memuat suatu tema tertentu yang berkaitan dengan topik bimbingan yang disajikan.


B.     DUNIA FILM PENDEK

Secara umum film pendek dapat dimasukan dalam kategori media audio visual, yaitu media yang menunjukan unsur auditif (pendengaran) maupun visual (penglihatan), jadi dapat dipandang maupun didengar suaranya. (Anitah, 2010:55). Sebuah film dapat dikategorikan dalam film pendek jika durasi yang ditampilkan tidak terlalu lama tetapi juga tidak terlalu singkat. Yang menjadi esensi dari film pendek adalah pesan yang hendak disampaikan dari film tersebut. Film pendek juga dapat mengambil dari sebuah cuplikan film biasa, dimana terdapat satu bagian yang sesuai dengan topik yang hendak disampaikan. Film pendek juga dapat diambil dari rekaman pribadi yang dianggap sesuai dengan topik bimbingan.

Dalam menampilkan film pendek, perlu diperhatikan apakah tayangan dalam film tersebut sesuai dengan kategori usia yang menyaksikan. Juga mengenai kejelasan gambar, kejelasan suara. Semua itu perlu diperhatikan agar film pendek yang disajikan dapat mengenai sasaran yang telah ditetapkan.

Ada banyak cara untuk mendapatkan suatu film pendek yang berkualitas. Media yang paling popular untuk mencari film pendek adalah melalui situs internet. Situs yang paling popular adalah youtube. Situs ini poluler karena menampilkan berbagai video tanpa dipungut biaya. Selain mengambil dari situs internet, film pendek dapat pula dicari melalui film documenter atau mencuplik sebuah film.


C.    FILM PENDEK DAN BIMBINGAN

Prayitno dan Erman Amti (1999:9) mendefinisikan bimbingan sebagai proses pemberian bantuan yang dilakukan oleh orang yang ahli kepada seorang atau beberapa individu, baik anak-anak, remaja, maupun dewasa. Agar orang yang dibimbing dapat mengembangkan kemampuan dirinya sendiri dan mandiri; dengan memanfaatkan kekuatan individu dan sarana yang ada dan dapat dikembangkan, berdasarkan norma-norma yang berlaku. Sementara menurut Sunaryo dkk (2002:3), bimbingan adalah proses membantu individu untuk mencapai perkembangan optimal. Dari dua pendapat itu dapat dilihat bahwa unsur dalam bimbingan adalah pemberian bantuan agar orang yang dibimbing mampu berkembang optimal sesuai kemampuannya.

Pemilihan film pendek harus sesuai dengan topik bimbingan yang disampaikan, karena fungsi film pendek adalah untuk memperkuat pesan bimbingan yang disampaikan oleh pembimbing. Kesesuaian film pendek yang dipilih dengan topik bimbingan inilah yang menjadi esensi dari film pendek sebagai media bimbingan.


D.    TIMING PEMUTARAN FILM PENDEK

Hal lain yang perlu diperthatikan adalah pemilihan waktu dalam memutar film pendek. Pada dasarnya, tidak menjadi masalah kapan sebuah film pendek ditampilkan dalam suatu layanan bimbingan. Yang penting adalah pembimbing mampu membawa peserta didik untuk mengangkap makna film dan kaitannya dengan topik bimbingan yang diberikan. Jika film ditampilkan pada awal bimbingan, maka guru pembimbing perlu menjelaskan makna film kepada peserta didik agar peserta didik memahami betul isi film pendek yang ditampilkan. Demikian pula jika film diputar pada pertengahan bimbingan. Namun yang menjadi pembeda adalah jika film pendek diputar pada akhir bimbingan. Jika demikian maka pembimbing tidak perlu terlalu jauh membahas makna film karena film pendek pada akhir bimbingan lebih berfungsi sebagai penguat bimbingan bukan sebagai penjelas pesan bimbingan.

Lalu, kapankah waktu yang baik untuk memutar film pendek? Seperti yang telah dikatakan sebelumnya bahwa pada dasarnya tidak menjadi masalah kapan film pendek akan ditampilkan oleh pembimbing. Yang perlu lebih diperhatikan adalah isi dari film pendek tersebut. Jika isi film termasuk “berat” maka sebaiknya ditampilkan pada awal atau pertengahan karena memerlukan penjelasan lebih lanjut mengenai makna film. Tetapi jika hanya sebuah film “ringan” saja, maka ditampilkan pada akhir bimbingan pun tidak menjadi masalah.
E.     DURASI WAKTU

Dari namanya saja dapat diketahui bahwa film pendek bukanlah film yang menghabiskan banyak waktu. Tetapi berapa waktu yang ideal untuk menampilkan film pendek? Sebuah film dapat dikatakan sebagai film pendek jika durasinya tidak lebih dari 30 menit. Tetapi apakah dalam sebuah layanan bimbingan ideal mengabiskan waktu sebanyak 30 menit hanya untuk menyaksikan sebuah film? Karena waktu bimbingan di sekolah pun terbatas maksimal hanya 45 menit saja. Maka guru pembimbing perlu pintar-pintar dalam memilih film pendek yang tidak menghabiskan waktu bimbingan sehingga malahan tujuan bimbingan menjadi tidak tercapai.

Lima sampai sepuluh menit kiranya waktu yang ideal bagi pemutaran filmpendek dalam bimbingan. Dengan begitu, guru pembimbing  dapat memiliki waktu yang cukup untuk menyampaikan materi bimbingan ataupun mengajak peserta didik untuk mengkritisi isi film.


F.     BEBERAPA HAL POKOK

Dari pembahasan tentang film pendek dan kaitannya dengan bimbingan, maka terdapat beberapa hal pokok yang menjadi inti pembahasan, yaitu:
·        Film pendek harus sesuai dengan topik bimbingan yang hendak disampaikan.
·        Durasi waktu perlu diperhatikan agar tidak menghabiskan waktu bimbingan sendiri.
·        Timing pemutaran film pendek harus tepat.

Dari hal-hal pokok tersebut, maka fungsi film pendek dalam bimbingan akan menjadi efektif dan sejalan dengan tujuan bimbingan. Karena pada dasarnya film pendek adalah salah satu media yang dapat digunakan oleh guru pembimbing dalam manyampaikan pesan bimbingan. Penggunaan film pendek sebagai media bimbingan juga perlu diimbangi dengan kemampuan guru pembimbing dalam mengarahkan para peserta didik pada tujuan bimbingan yang diharapkan.

ditulis oleh: Chandra Sang Wahyu
»»  Baca Selengkapnya...

LENTERA JIWA - NUGIE

video

lagu ini menceritakan tentang pergumulan batin seseorang tentang pilihan hidupnya . . . . . . . .


»»  Baca Selengkapnya...

MEDIA BK

A. Definisi
Seringkali kita temui dalam proses pembelajaran di kelas, guru mengalami masalah untuk memberikan pengertian kepada siswa tentang satu pokok bahasan. Guru mengeluh karena sudah seringkali diulang, tetapi siswa tidak dengan segera dapat memahami pokok bahasan tersebut. Kasus ini mengindikasikan bahwa dalam proses komunikasi antara guru dan siswa terdapat kesenjangan. Dimana kesenjangan ini muncul mungkin akibat bahan ajar yang diberikan kepada siswa kurang menarik atau mungkin media yang dipergunakan tidak sesuai dengan karakteristik bahan ajar yang diberikan.
B. Jenis-jenis media
Saat ini, dengan cepatnya teknologi komunikasi maka semakin banyak pula media komunikasi yang muncul. Pada pembahasan ini, media komunikasi yang dimaksud adalah media untuk membantu pelaksanaan Bimbingan dan Konseling di sekolah. Beberapa media yang dimaksud adalah komputer (internet), peralatan audio seperti tape recorder dan peralatan visual seperti VCD/DVD.
1. Komputer
Perkembangan perangkat komputer saat ini mengalami kemajuan yang sangat pesat. Hampir setiap bulan muncul genre-genre baru dalam dunia komputer. Sebagai contoh adalah perkembangan prosessor sebagai otak dalam sebuah komputer mulai dari Intel Pentium 1 sampai dengan Pentium 4. Sebagian orang belum bisa menikmati kecanggihan Prosesor Pentium 4, saat ini sudah muncul Centrino bahkan Centrino Duo Core. Belum lagi sebagian orang berpikir kehebatan Centrino Duo Core, telah muncul pula AMD 690.
Pesatnya perkembangan teknologi komputer ini memang sebagai jawaban untuk akses data atau informasi. Perubahan di masyarakat yang semakin cepat pada akhirnya menuntut perkembangan teknologi komputer yang semakin canggih. Saat ini dibutuhkan akses data yang cepat, sehingga pada akhirnya prosesor yang ada juga semakin cepat.

2. Peralatan Audio
Perkembangan peralatan audio saat ini juga mengalami perkembangan yang pesat. Peralatan audio yang di pergunakan dalam proses bimbingan dan konseling seperti tape recorder. Penggunaan tape recorder ini antara lain adalah untuk merekam sesi konseling dan memutar kembali hasil-hasil yang diperoleh selama sesi konseling.
Tape recorder membutuhkan kaset untuk bisa melakukan tindakan perekaman. Kaset memiliki pita magnetik yang berfungsi untuk menyimpan data atau informasi percakapan.
Saat ini telah berkembang alat perekam yang tidak membutuhkan pita perekam. Alat ini disebut MP3 dan MP4. Pada dasarnya alat ini berfungsi sebagai player, dimana di dalam alat ini terdapat sebuah mini harddisk yang memiliki kapasitas sampai dengan 4 Gb. Sebagai sebuah player, maka alat ini dapat memainkan musik dan dapat dipergunakan untuk merekam suara.
Ukuran MP3 dan MP4 saat ini amat kecil jika dibandingkan dengan sebuah mini tape recorder biasa. Seringkali kita jumpai, alat MP3 atau MP4 seukuran sebuah spidol atau ballpoint.

3. Peralatan Visual
Alat visual dapat bermacam-macam ragamnya seperti video player dan VCD/DVD player. Pada awalnya, penggunaan peralatan visual adalah dengan mempergunakan projector. Penggunaan proyektor ini dipandang tidak efisien, karena dalam proses produksinya membutuhkan tahapan-tahapan yang panjang. Mulai dari merekam gambar sampai dengan menampilkan gambar. Bahkan seringkali dijumpai mutu gambar yang tidak bagus dan bahkan mudah rusak. Sehingga lambat laun peralatan ini mulai ditinggalkan.
Video player dulu merupakan peralatan yang lumayan banyak dipergunakan orang. Hanya saja, saat ini sudah banyak ditinggalkan karena proses produksinya tertalu berbelit. Untuk menghasilkan sebuah hasil rekaman yang baik, dibutuhkan kamera perekam yang lumayan besar dan berat, selain itu kaset yang dipergunakan juga relatif besar, sehingga dipandang tidak praktis. Terlebih, hasil rekaman seringkali tidak begitu jernih.
C. Manfaat Penggunaan Media dalam Konseling
Tidak dapat disangkal bahwa saat ini kita hidup dalam dunia teknologi. Hampir seluruh sisi kehidupan kita bergantung pada kecanggihan teknologi, terutama teknologi komunikasi. Bahkan, menurut Pelling (2002) ketergantungan kepada teknologi ini tidak saja di kantor, tetapi sampai di rumah-rumah.
Konseling sebagai usaha bantuan kepada siswa, saat ini telah mengalami perubahan-perubahan yang sangat cepat. Perubahan ini dapat ditemukan pada bagaimana teori-teori konseling muncul sesuai dengan kebutuhan masyarakat atau bagaimana media teknologi bersinggungan dengan konseling. Media dalam konseling antara lain adalah komputer dan perangkat audio visual.
Komputer merupakan salah satu media yang dapat dipergunakan oleh konselor dalam proses konseling. Pelling (2002) menyatakan bahwa penggunaan komputer (internet) dapat dipergunakan untuk membantu siswa dalam proses pilihan karir sampai pada tahap pengambilan keputusan pilihan karir. Hal ini sangat memungkinkan, karena dengan membuka internet, maka siswa akan dapat melihat banyak informasi atau data yang dibutuhkan untuk menentukan pilihan studi lanjut atau pilihan karirnya.
Data-data yang didapat melalui internet, dapat dianggap sebagai data yang dapat dipertanggungjawabkan dan masuk akal (Pearson, dalam Pelling 2002; Hohenshill, 2000). Data atau informasi yang didapat melalui internet adalah data-data yang sudah memiliki tingkat validitas tinggi. Hal ini sangat beralasan, karena data yang ada di internet dapat dibaca oleh semua orang di muka bumi. Sehingga kecil kemungkinan jika data yang dimasukkan berupa data-data sampah.
Sebagai contoh, saat ini dapat kita lihat di internet tentang profil sebuah perguruan tinggi. Bahkan, informasi yang didapat tidak sebatas pada perguruan tinggi saja, tetapi bisa sampai masing-masing program studi dan bahkan sampai pada kurikulum yang dipergunakan oleh masing-masing program studi. Data-data yang didapat oleh siswa pada akhirnya menjadi suatu dasar pilihan yang dapat dipertanggungjawabkan. Tentu saja, pendampingan konselor sekolah dalam hal ini sangat diperlukan.
Sampsons (2000) mengungkapkan bahwa fasilitas di internet dapat dapat dipergunakan untuk melakukan testing bagi siswa. Tentu saja hal ini harus didasari pada kebutuhan siswa. Penggunaan komputer di kelas sebagai media bimbingan dan konseling akan memiliki beberapa keuntungan seperti yang dinyatakan oleh Baggerly sebagai berikut:
1. Akan meningkatkan kreativitas, meningkatkan keingintahuan dan memberikan variasi pengajaran, sehingga kelas akan menjadi lebih menarik;
2. Akan meningkatkan kunjungan ke web site, terutama yang berhubungan dengan kebutuhan siswa;
3. Konselor akan memiliki pandangan yang baik dan bijaksana terhadap materi yang diberikan;
4. Akan memunculkan respon yang positif terhadap penggunaan email;
5. Tidak akan memunculkan kebosanan;
6. Dapat ditemukan silabus, kurikulum dan lain sebagainya melalui website; dan
7. Terdapat pengaturan yang baik

Selain penggunaan internet seperti yang telah diuraikan di atas, dapat dipergunakan pula software seperti microsoft power point. Software ini dapat membantu konselor dalam menyambaikan bahan bimbingan secara lebih interaktif. Konselor dituntut untuk dapat menyajikan bahan layanan dengan mempergunakan imajinasinya agar bahan layanannya tidak membosankan.
Program software power point memberikan kesempatan bagi konselor untuk memberikan sentuhan-sentuhan seni dalam bahan layanan informasi. Melalui program ini, yang ditayangkan tidak saja berupa tulisan-tulisan yang mungkin sangat membosankan, tetapi dapat juga ditampilkan gambar-gambar dan suara-suara yang menarik yang tersedia dalam program power point. Melalui fasilitas ini, konselor dapat pula memasukkan gambar-gambar di luar fasilitas power point, sehingga sasaran yang akan dicapai menjadi lebih optimal.
Gambar-gambar yang disajikan melalui program power point tidak statis seperti yang terdapat pada Over Head Projector (OHP). Konselor dapat memasukkan gambar-gambar yang bergerak, bahkan konselor bisa melakukan insert gambar-gambar yang ada di sebuah film.
Media lain yang dapat dipergunakan dalam proses bimbingan dan konseling di kelas antara lain adalah VCD/DVD player. Peralatan ini seringkali dipergunakan oleh konselor untuk menunjukkan perilaku-perilaku tertentu. Perilaku-perilaku yang tampak pada tayangan tersebut dipergunakan oleh konselor untuk merubah perilaku klien yang tidak diinginkan (Alssid & Hitchinson, 1977; Ivey, 1971, dalam Baggerly 2002). Dalam proses pendidikan konselor pun, penggunaan video modeling ini juga dipergunakan untuk meningkatkan keterampilan dan prinsip konseling yang akan dikembangkan bagi calon konselor (Koch & Dollarhide, 2000, dalam Baggerly, 2002).
Sebelum VCD/DVD player ini ditayangkan, seorang konselor sebaiknya memberikan arahan terlebih dahulu kepada siswa tentang alasan ditayangkannya sebuah film. Hal ini sangat penting, sebab dengan memiliki gambaran dan tujuan film tersebut ditayangkan, maka siswa akan memiliki kerangka berpikir yang sama. Setelah film selesai ditayangkan, maka konselor meminta siswa untuk memberikan tanggapan terhadap apa yang telah mereka lihat. Tanggapan-tanggapan ini pada akhirnya akan mempengaruhi bagaimana klien berpikir dan bersikap, yang kemudian diharapkan akan dapat merubah perilaku klien atau siswa.
Kerugian Penggunaan Media dalam Konseling
Pelling (2002) menyatakan bahwa, walaupun saat ini masyarakat sangat tergantung pada teknologi, tetapi di lain pihak, masih banyak diantara kita yang mengalami ketakutan untuk mempergunakan teknologi.
Tidak dapat dipungkiri bahwa sebagian besar masyarakat kita masih percaya bahwa pernyataan-pernyataan yang diberikan oleh orang tua atau orang yang dituakan masih dianggap lebih baik. Hal ini tidak lepas dari budaya paternalistik yang melingkupi masyarakat kita.
Sebaik apapun teknologi yang berkembang, tetapi jika pola pikir masyarakat masih terkungkung dengan nilai-nilai yang diyakini benar, maka data atau informasi yang didapat seakan-akan menjadi tidak berguna. Sebagai contoh, seorang siswa akan memilih jurusan di perguruan tinggi. Mungkin mereka akan mencari informasi sebanyak mungkin, dan konselor akan memfasilitasi keinginan mereka. Tetapi, pada saat mereka dihadapkan untuk menentukan dan memilih jurusan yang akan diambil, maka tidak jarang dari mereka akan berkata, “Saya senang dengan jurusan A, tetapi nanti tergantung pada orang tua saya”.
Contoh lain, saat ini perkembangan teknologi sudah berkembang dengan demikian pesat. Tiap manusia dapat berkomunikasi tanpa dibatasi rentang ruang dan waktu. Tetapi dalam budaya tertentu, alat komunikasi ini bisa menjadi “tidak bermanfaat”. Restu orang tua merupakan hal yang dianggap sakral oleh sebagian budaya tertentu, bahkan meminta restu ini akan lebih afdol jika dilakukan dengan melakukan sungkem. Untuk menunjukkan perilaku ini, maka seringkali mereka melupakan kecanggihan piranti komunikasi yang sudah canggih, walau jarak yang ditempuh untuk mendatangi orang tua relatif jauh.
Hal lain yang terkait dengan penggunaan media dalam bimbingan dan konseling adalah sasaran pengguna seringkali disamakan. Walaupun ragam media sudah bermacam-macam, tetapi media ini seringkali masih belum bisa menyentuh sisi afektif seseorang. Dalam bimbingan dan konseling dikenal istilah empati. Penggunaan media, seringkali pula akan “menghilangkan” empati konselor, jika konselor mempergunakan media sebagai alat bantu utama.

Sumber : http://enickshantybkyahoocoid.blogspot.com/
Tanggak uduh : 12 April 2011
»»  Baca Selengkapnya...

Tingkat Efektifitas Layanan Bimbingan dan Konseling Melalui SMS (Short Mesagge Service).

A. Latar Belakang Permasalahan
Perkembangan era globalisasi yang begitu pesat, membuat seluruh aspek kehidupan terkena dampaknya. Begitupun kehidupan masyarakat sangat terasa perubahan akibat pengaruh globalisasi.
Profesi Bimbingan dan Konseling membuat suatu sistem-sistem baru yang dapat menopang kehidupan masyarakat untuk menghadapi kedahsyatan serbuan pengaruh globalisasi. Begitupun profesi konselor yang mulai melibatkan Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam melaksanakan proses pelayanan.
Dalam memperbaiki pelayanannya, konselor mulai menggunakan media-media yang mampu menunjang kebutuhan para konseli salah satunya melalui media SMS (Short Mesagge Service). Seperti kita ketahui bahwa tidak semua konseli memiliki cukup banyak waktu untuk proses konseling, sehingga pelayanan Bimbingan dan Konseling berbasis teknologi informasi sangat diharapkan mampu memfasilitasi para konselor dan konseli untuk melakukan proses konseling. Jadi, dengan adanya pelayanan Bimbingan dan Konseling berbasis Teknologi Informasi diharapkan dapat diakses atau dilakukan dimanapun, kapanpun, dan setiap saat.

B.Tujuan dan Manfaat
Tujuan: Agar masyarakat lebih mengetahui bahwa pelayanan Bimbingan dan Konseling dapat dilakukan dimanapun dan kapanpun.
Manfaat: Masyarakat jadi lebih tau apa saja media yang dapat digunakan dalam melakukan proses Konseling.

C.Pembahasan
1.Proses Konseling melalui SMS (Short Mesagge Service).
Kemudahan melakukan pemberian layanan Bimbingan dan Konseling mengikuti tatanan kehidupan masyarakat umum diharapkan mampu untuk memenuhi kebutuhan para konseli yang menuntut pemberian layanan bimbingan dan konseling yang cepat, luas, dan mudah dilakukan oleh konseli. Konseling melalui SMS (Short Mesagge Service) adalah salah satu cara konseling dengan memanfaatkan teknlogi informasi. Di bawah ini akan dikemukakan cara-cara dalam penggunaan teknologi informasi dengan cara SMS (Short Mesagge Service) dalam layanan konseling.
2. Cara-cara pelayanan konseling menggunakan SMS (Short Mesagge Service):
a. Gunakan bahasa yang sopan sesuai dengan kondisi klien,
b. Gunakan bahasa yang lembut dan bersahabat,
c. Balas SMS sampai klien mengakhiri proses konselingnya,
d. Mengembangkan perasaan senang dan berfikir positif tentang siapapun yang mengirim SMS,
e. Catat hal-hal yang perlu memperoleh perhatian.
f. Memfokuskan pembicaraan guna mengefektifkan penggunaan media komunikasi.
g. Selalu mengakhiri pembicaraan dengan kesiapan untuk melakukan hubungan komunikasi selanjutnya
3. Dampak pelayanan konseling melalui SMS (Short Mesagge Service):
a. Konselor tidak dapat memastikan bahwa kliennya benar-benar seruis atau tidak.
b. Informasi yang diterima dan diberitakan sangat terbatas, komunikasi satu arah, klasifikasi dan eksplorasi tidak biasa segera dilakukan, sehingga ada kemungkinan terjadi kesalahpahaman,
c. Kegiatan konseling melalui SMS (Short Mesagge Service, dapat menimbulkan jarak baik secara fisik maupun psikis diantara konselor dan klien.
d. Belum terdapat data-data, fakta atau informasi yang objektif dari klien, sehingga pemecahan masalah dengan teknik pendekatan ini pada akhirnya akan kabur.
e. Permasalahan yang dihadapi oleh klien beraneka ragam dalam emosi sehingga kadang-kadang konselor mengabaikan segi-segi yang penting dalam proses konseling.
f. Dianggap oleh klien sebagai perampasan tanggung jawab, maka teknik pendekatan ini kurang baik untuk di pergunakan.

D.ANALISIS
1. Tingkat Efektifitas Layanan Bimbingan dan Konseling melalui SMS (Short Mesagge Service).
Menurut saya tingkat efektifitas layanan bimbingan dan konseling melalui via SMS (Short Mesagge Service),kurang efektif karena layanan bimbingan dan konseling tidak berjalan secara efektif. Banyak hal-hal yang tidak mampu dilakukan secara langsung untuk menangani permasalahan konseli.
2. Kelebihan dan Kekurangan Layanan Bimbingan Konseling Melalui SMS (Short Mesagge Service).
a. Kelebihan pelayanan bimbingan konseling melalui SMS (Short Mesagge Service), diantaranya :
a) Pelayanan melalui teknologi informasi mudah dilakukan.
b) Tidak membutuhkan biaya transportasi
c) Mengurangi kesulitan jadwal yang berkaitan dengan program kelompok
d) Klien lebih mau terbuka berbicara tentang masalahnya karena ia tidak berkomunikasi secara face to face, sehingga ia dapat lebih siap dan terbuka
e) Pelayanan melalui teknologi informasi dan komunikasi secara individu
f) Konselor dapat menyesuaikan kesiapan klien dalam mengambil tindakan yang diperlukan, memotivasi diri, dan meningkatkan keterampilan kliennya.
g) Pelayanan melalui teknologi informasi dan komunikasi formatnya harus memfasilitasi konseling yang proaktif.
h) Setelah klien membuka komunikasi via teknologi informasi awal, maka konselor berinisiatif untuk memulai suatu kontak berikutnya sehingga ia dapat menciptakan suatu taraf terapis berupa dukungan sosial dan klien bertanggung jawab selama proses penyembuhannya.
i) Akan menghasilkan suatu intervesi yang ringkas, terpusat, dan sesuai dengan pribadi klien.
b. Kekurangan dari penggunaan SMS (Short Mesagge Service), diantaranya:
a) Penyediaan sarana yang tidak murah,
b) Keseriusan klien dalam bimbingan tidak dapat dipastikan,
c) Informasi yang diterima konselor terbatas, pengabaian faktor-faktor emosi, dan
d) Memungkinkan untuk timbulnya jarak antara klien dan konselor baik secara fisik maupun psikis.

E.PENUTUP
1. Kesimpulan
Teknologi informasi tidak hanya sekedar SMS (Short Mesagge Service), melainkan gabungan dari komputasi dengan jalur komunikasi diantaranya, telepon, komputer, internet, televisi, radio dll. Teknologi informasi diciptakan sebagai pemenuhan kebutuhan manusia sebagai individu yang ingin pekerjaannya lebih mudah dan sebagai makhluk sosial yang perlu berinteraksi. Dalam pelayanan bimbingan konseling teknologi informasi digunakan apabila pelayanan tersebut tidak memungkinkan untuk dilakukan secara langsung, jadi teknologi informasi dalam bimbingan konseling hanya sebagai alternatif. Konselor dapat menggunakan SMS (Short Mesagge Service), sebagai alat bantu dalam melakukan layanan konseling. SMS (Short Mesagge Service), mendapatkan informasi dengan lebih cepat, mudah, dan praktis. Pelayanan konseling ditujukan untuk memecahkan masalah dan kalau bisa mencegah timbulnya masalah, namun kesibukan klien dan konselor sendiri terkadang malah menambah masalah. Dengan teknologi informasi masalah tersebut akan dapat diminimalisir. Kelebihan yang didapat dari pelayanan bimbingan konseling melalui teknologi informasi, diantaranya mudah dilakukan, tanpa biaya transportasi, tidak ada batas ruang dan waktu. Selain itu, klien lebih terbuka karena bersifat pribadi. Pelayanan bimbingan konseling pun lebih terpusat.

2. Rekomendasi
Konselor harus senantiasa menciptakan inovasi-inovasi baru dalam pelayanan bimbingan konseling, tentunya ditunjang oleh kompetensi yang memadai mengenai teknologi informasi. Teknologi informasi mampu menunjang pelayanan bimbingan konseling agar lebih efektif. Maka dari itu, konselor harus selalu meningkatkan kemampuannya dalam menggunakan teknologi yang berkembang saat ini. Penyediaan infrastruktur harus ditingkatkan, khususnya di Indonesia masih banyak tempat-tempat terpencil yang belum terjamah oleh teknologi. Penyediaan perangkat teknologi informasi adalah hal yang mutlak dalam konseling melalui teknologi informasi, sehingga pelayanan bimbingan konseling akan berjalan efektif tanpa batas ruang dan waktu. Satu hal yang harus tetap dijaga oleh konselor adalah kode etik yang berlaku dalam profesi bimbingan konseling supaya tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Sumber: Dalam http://www.vilila.com/2010/09/layanan-bimbingan-konseling-berbasis.html#ixzz17iNFtwHY (diunduh pada tanggal 10 Desember 2010).
»»  Baca Selengkapnya...